Tatalaksana Paresis Nervus Fasialis akibat Fraktur Temporal
DOI:
https://doi.org/10.25077/jokli.v4i1.85Keywords:
Fraktur tulang temporal, Nervus fasialis, Paresis, Kortikosteroid intratimpani, GrommetAbstract
Latar Belakang: Fraktur tulang temporal merupakan salah satu cedera kepala yang sering terjadi akibat trauma tumpul berenergi tinggi. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah paresis nervus fasialis, yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Diagnosis ditegakkan dengan adanya riwayat trauma kepala disertai paresis nervus fasialis satu sisi, penurunan pendengaran dan tampak adanya garis fraktur pada High-Resolution Computed Tomography (HRCT) scan temporal. Laporan kasus: Dilaporkan seorang perempuan 43 tahun dengan keluhan wajah sisi kiri mencong sejak 1 bulan pasca kecelakaan lalu lintas. Pemeriksaan menunjukkan hemotimpanum, paresis nervus fasialis perifer sinistra House-Brackmann V, gangguan pendengaran konduktif, dan hasil HRCT menunjukkan fraktur longitudinal tulang temporal kiri melibatkan dinding kanalis fasialis. Pasien ditatalaksana dengan pemasangan pipa grommet dan injeksi kortikosteroid intratimpani, terapi medikamentosa berupa obat neurotropik dan tetes mata, serta fisioterapi wajah. Perbaikan klinis terjadi bertahap hingga House-Brackmann III dalam 2 bulan pasca tindakan. Kesimpulan: Penatalaksanaan paresis nervus fasialis akibat fraktur tulang temporal memerlukan pendekatan multidisiplin. Deteksi dini, evaluasi menyeluruh, dan tatalaksana yang tepat dapat meningkatkan prognosis, memperbaiki fungsi nervus fasialis, dan mencegah kecacatan jangka panjang.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Auzy Yoana Khalisha, Rossy Rosalinda, Tuti Handayani

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.











